ibu adalah segalanya
Pernah punya semangat sebesar gunung, setinggi gelombang, atau sekuat badai? pernah. Kapan? saat saya jadi ibu. Ibu dua anak, semua balita. Ketika mata masih belum sekejap terpejam, tangis itu mulai terdengar lagi. Yang satu minta bergayut di tangan, yang lain ingin menyusu lagi. Rasanya ingin membelah diri, kata Miranda risang ayu dalam salah satu tulisan dahsyatnya. Menjadi ibu seperti menyelami sebuah dunia baru, dunia kesabaran yang tak berbatas. Mungkin dulu ketika masih gadis, kadang saya mengutuk ibu yang begitu cueknya leyeh-leyeh ketika di sebelahnya bayi mungil menangis, di depannya anak batita mengacak-acak makanan, dan kakak tertuanya bermain pedang. Saat ini, saya menyadari, bahwa saya ingin jadi ibu itu. Tapi tidak bisa, tidak mau selama saya masih mampu bertahan (taela kayak lagu).
Semangat itu bahkan saya sadari saat melahirkan anak kedua. Seminggu sebelum taksiran partus (perkiraan waktu persalinan) saya didiagnosis demam berdarah. Demam yang tinggi dan rasa gigil yang luar biasa membuat saya mau pingsan rasanya. Eh, berapa jam kemudian, perut berkontraksi dan ternyata anak saya sudah minta dikeluarkan. Jadilah saya melahirkan dalam keadaan: satu, demam tinggi, dua, dipasang tali infus yang membelit-belit, tiga, bayi yang diperkirakan seberat hampir empat kilo, empat, trombosit di bawah seratus ribu, lima, hampir tengah malam pula. Menyerah? tidak ada dalam kamus saya ketika itu. yang terpikirkan hanyalah saya harus melahirkan. Melahirkan= mengenyahkan nyeri dan menyelamatkan bayi dari denyut jantungnya yang amat tinggi karena ibunya demam.
Berkat pertolongan Allah (pastinya!), Izar, anak kedua saya lahir lewat persalinan normal, sehat wal'afiat, tidak sakit, tidak demam, tidak apa-apa. Beratnya lumayan 3820 gram. Jadilah ia menunggui ibunya yang sakit, demi ASI eksklusif. bayi yang amat kuat, Alhamdulillah.
Saya jadi percaya, ibu bisa melakukan apa saja demi anaknya. Takjub saya. Mengutip lagi dari Miranda, bagaimana sebuah "kelemahan" bisa menghasilkan keajaiban. Ya itu tadi, semangat jawabnya. Hidup Ibu!
reformasi hidup
HAve you ever wake up with blank in your head. You just let the rest of the day with nothing to do. Well, I miss it. You know menjadi ibu, istri, anak, anggota masyarakat menuntut (lebih dari -jika ada-) 24 jam harimu. For reading, you had to steal the time.
Proses kreatif telah terhenti, justru you have to do something exactly the same almost every day. BAngun jam 4, praying, preparing anything, blah blah blah. And itu belum tentu sempurna (kacian de lo).
Anyway...sudah lima tahun aku perlahan menjalaninya. Well, get use to. ada ide menjadikan aktivitas ibu-ibu tidak stagnan? tell me, will yah
reformasi hidup
HAve you ever wake up with blank in your head. You just let the rest of the day with nothing to do. Well, I miss it. You know menjadi ibu, istri, anak, anggota masyarakat menuntut (lebih dari -jika ada-) 24 jam harimu. For reading, you had to steal the time.
Proses kreatif telah terhenti, justru you have to do something exactly the same almost every day. BAngun jam 4, praying, preparing anything, blah blah blah. And itu belum tentu sempurna (kacian de lo).
Anyway...sudah lima tahun aku perlahan menjalaninya. Well, get use to. ada ide menjadikan aktivitas ibu-ibu tidak stagnan? tell me, will yah
I am thinking now
I am thinking now
hai i am back after almost a year. hallo again, to my self
anak sekecil itu....
Pagi ini, mikrolet M 01 jurusan kampung melayu senen berjalan amat merambat. Padahal matahari belum lagi sempurna "mengerahkan" sinarnya. Anak itu berseragam putih merah dengan topi yang sedikit miring posisinya. Rambutnya panjang terurai tanpa disisir dengan baik. Aku ingat anak ini ketika para penumpang berebutan naik mikrolet seperti tak pernah melihat mobil dalam berbulan-bulan. Ia naik didepanku, dengan tas ransel besar yang tidak proporsional hampir menutupi seluruh punggungnya. Mungkin ia sama-sama berdesak-desakan di kereta tadi, aku tak tahu.
Yang menarik dari anak ini adalah matanya yang begitu sayu dan mengantuk. Sepertinya ia berusaha sekuat tenaga untuk menjaganya tidak terpejam. Tatapannya kosong menatap jalanan tanpa peduli siapa orang yang ada disekitarnya. Mungkin usianya hanyalah 9 tahun. Badannya tampak ringkih dan agak bungkuk kedepan. Kulihat sekilas badge sekolahnya. Sebuah sekolah sd swasta yang cukup bonafid. Sesekali badannya oleng ketika supir mikrolet mengerem mobil dengan semena-mena. Tentu saja, dengan badan kecil seperti itu, angin semilir bisa saja menerbangkannya.
KUpandang wajah memelas itu sepuasnya tanpa ia sadari. Mengapa anak sekecil ini harus berjuang pergi ke sekolah sebelum "perjuangan" yang sebenarnya. Ia menempuh begitu jauh jarak tanpa keriangan. Mendesak-desakkan tubuhnya yang kecil di antara "raksasa-raksasa" yang bahkan harus membungkuk dalam untuk melihatnya. apakah orang tuanya tidak pernah melihat betapa kuyu anaknya di perjalanan. Sepertinya amat sulit membayangkan bagaimana anak ini bisa tertawa.
AKu membayangkan di pagi hari yang gelap, anak ini sudah harus terbangun dan memakai pakaian seragamnya. Ia tampak bangun dengan terpaksa, diburu-buru oleh jadwal kereta, mungkin tanpa diawali sarapan. Anak-anak di desa dengan sekolah yang harus ditempuh berjalan kaki bisa lebih riang daripada wajah anak kecil ini. Mereka bisa berjalan bersama-sama di pematang sawah, memetik ujung rumput dan bermain-main dengan daun, melompati genangan air tanpa peduli sepatu yang kotor. Tapi di Jakarta, apa yang bisa dinikmati dari kesemrawutan transportasi dan pacuan waktu yang luar biasa membuat stress.
Dan anak ini harus menjalaninya lebih awal di usia yang teramat muda ini. Usia anak-anak yang harusnya diisi dengan pengalaman positif tentang lingkungan.
Belum lagi memikirkan kesehatannya. BAgaimana ia bisa belajar dengan baik bila ia tak sarapan, kurang tidur, melakukan perjalanan melelahkan dan tidak gembira. BAgaimana ia bisa belajar dengan wajah yang seolah mengatakan "aku tak tahu apa yang mau aku lakukan."
Dan aku pun menoleh kembali ke jalanan yang macet. Beberapa saat kemudian, aku ingin memandangnya lagi dan ia sudah tidak ada.
mencari nenek moyang
Ini sebuah diskusi yang pasti menarik. BAhwa kita semua di dunia ini berasal dari satu keluarga. Penelitian tingkat DNA menunjukkan gen mitokondria kita ternyata sama dengan mitokokondria fosil yang ditemukan beberapa puluh ribu tahun lalu. Steve Olson penulis buku Mapping history: gen, ras, dan asal usul manusia mengatakan mitokondria ini diduga dari ibu kita semua yaitu Hawa.
Memperbincangkan tentang asal usul manusia pastilah gak terlepas dari kepentingan politik. Sebab semua negara bisa saja mengklaim bahwa "Adam dan Hawa" ini berasal dari "trah" mereka. JAdi lebih baik bersikap hati-hati dalam membaca berbagai referensi tentang hal ini.
Tapi buatku, ini sebuah pencerahan. Sulit mencari buku yang bagus, tapi tulisan Steve Olson ini luar biasa bagus. PAntaslah ia memenangkan buku sains terbaik versi Discovery. Ketika membaca halaman demi halaman, sepertinya mata kita benar-benar melekat di sana. Siapa yang tak ingin tahu asal-usul sendiri. Ibaratnya mencoba mengurai suatu benang kusut yang semakin kusut dimakan usia.
Well, ngomongin genetika itu ibarat membuka kotak pandora yang tak berujung. Mengurai "hanya" 47 pasang kromosom kita itu luar biasa sulitnya. Dan ternyata setiap orang gak pernah ada yang punya kromosom persis mirip plek sama. Bahkan pada anak kembar sekalipun. Perbedaan genetika yang tampil sebagai bentuk fisik ternyata cuma seujung kuku dari semua susunan genetika kita, meski akupun masih menyadari, "ujung kuku" itulah yang mempengaruhi kehidupan seorang manusia.
Misalnya orang kulit hitam sudah diidentikkan dengan afrika, kulit putih berarti orang Eropa, kuning langsat berarti orang Asia. PAdahal yang menentukan itu hanyalah sekelumit susunan DNA, bandingkan dengan ratusan juta gelungan DNA yang lain yang bisa jadi sama.
Di dalam DNA lah tersimpan sejarah dan masa depan kita. Penemuan genetika pasti akan mengubah dunia, tetapi genetika bukanlah segala-galanya. Sebab yang menentukan siapa diri kita sebenarnya adalah pandangan kita sendiri yang terbentuk lebih banyak karena faktor non genetika. INi mengajarkan aku untuk lebih menundukkan kepala atas kebesaran YAng di atas, bahwa sistem penciptaan makhluk hidup sudah sedemikian rumit tetapi tetap nyata sebagai bukti bahwa manusia sama di mata Tuhan secara fisik. Kesadaranlah untuk taat lah yang berbeda.
a woman's future really is
A woman's future that I imagine:
1. She is a gentle but tough person. Wanita masa depan adalah perpaduan antara Aisyah yang cerdas tetapi lembut seperti Masyithoh yang tetap lembut kepada tuannya tetapi Tegas mempertahankan prinsipnya.
2. She is a negosiator and good politician. Wanita masa depan selalu percaya diri dalam setiap kesempatan, bisa bernegosiasi seperti Ashiah pada suaminya Firaun tetapi juga mampu membaca situasi dan berstrategi demi kebaikan
3. she is an interpreuner and hard working. Wanita masa depan haruslah produktif, bisa membangun ekonomi kerakyatan melalui cara-cara yang inovatif, dan produktivitas ini muncul dari rumah.
4. She is a scientist and researchers. Wanita masa depan selalu ingin tahu dan selalu membaca, serta mencobanya dengan perhitungan yang jitu.5. She has beauty inside and outside. Bukan make up tebal yang menciptakan keindahan seornag wanita, tetapi apa yang terpancar dari hatinya.
6. ada yang bia nambahin?
a woman's future really is
Membeli kenyamanan
Ingin tau mengapa ada orang yang mau-maunya mengeluarkan uang 32 milyar untuk sebuah apartemen di bilangan Thamrin? Mengapa ada orang yang lebih memilih Mersi ketimbang mobil kancil, atau lebih memilih duduk di VIP ketimbang ekonomi. Kenyamanan mungkin salah satu jawabannya (yang baru terpikirkan olehku sebab aku bukan salah satu dari mereka). Standar kehidupan orang saat ini bergeser yang tadinya hanya "butuh" menjadi "mau yang lebih". So waee mangga atuh bagi yang berpunya. Tapi tunggu dulu.
Can you ever imagine, dunia adalah sesuatu yang maya, yang disesuaikan dengan persepsi kita. Sekelompok orang memanipulasi ini untuk kepentingan mereka. YOu will never happy if you havent get a mercedes benz, so you have to buy one. You buy a lot with your credit card and then they will give you a higher limit so you can buy anything as many as you can. You will be happy then. So what do you get? nothing coz you never feel enough. Itulah yang diinginkan. Itulah persepsi kita tentang dunia. Itulah yang diciptakan sengaja atau tidak sengaja.
Pernah gak sih berpikir kenapa ada orang yang korupsi sampai trilyunan rupiah, what is it for? now I have the answer. Persepsi tentang dunia yang terbentuk di kepala mereka membuat they never earn enough money. Kapitalisme luar biasa, konsumerisme yang merajalela telah membuat dunia ini jungkir balik. Why we get more disease, (right!) because we eat more than we need. Tasty is better than healthy. Why there are more people suffering deppresion (right!) because we want more than we actually need.
It is hard to think clearly in this crazy world. Tapi berpikirlah bahwa standard hidup itu kitalah yang membuat. Dont follow something you dont feel right, just because people more respect about it. Especially people who always see it trough their material ways. Seperti nabi yang asing di lingkungannya, lebih baik kita begitu daripada menjadi korban dunia. Remember that this world is an illusion, how it is shaped is according to our perception. Being your self is the happier way. Trust me.
MOther daughter relationship
Here we go, another problem with mother daughter relationship. This is a problem between me and (ehem)...my-almost tree year-old daughter. Pernah gak sih kita membayangkan ketika kita kecil dulu. Kamu bangun, makan pagi sudah ada, baju sudah tersetrika, peluk cium and bye-bye mother. Tak pernah terbersitpun untuk menoleh kembali apakah ibunda tercinta masih melihat kita dari kejauhan, mungkin menitikkan air mata sedikit saat melihat kita pergi. And then, we are growing old without even notice how much she loves us. Well, aku merasakannya ketika aku melihat anakku. She was staying with her grandma (my mother in law) and didnot even realize I was there. And then she said bye-bye without paying attention ketika aku pulang sendirian ke rumah (sendirian!! hik hik). Perpisahan kecil-kecilan ini membuat aku semalaman berpikir. Begitu mudahnya anakku yang sehari sebelumnya menangis minta dipeluk lalu sekarang memalingkan wajahnya dariku.
Am I sad? yes. Am I feeling abandoned? yes. Imagine, my little girl is leaving me (huaaaahua). Mungkin ini rada-rada gila, aku membayangkan diriku sendiri dan ibuku. may be I can count how much I realize she is here besides me, coz she is always here. Ketika aku dengan ceria menceritakan kemping ke gunung bersama teman-teman, ngabisin waktu di air terjun, belanja-belanji baju, dan there she was, waiting for me. Lalu ketika aku gak lulus ujian hingga kamarku banjir air mata, there she was, waiting for me. Dan sekarang, ini terjadi pada aku dan anakku. Here I am, waiting for her.
Tapi, seperti yang kahlil gibran bilang, more or less, anak itu bagaikan anak panah yang akan dilepaskan. Anak bukanlah milik kita, dia milik dunia (Loh, kok jadi ngelantur, kan more or less jadi salah juga gak papa :)). Jadi, we cannot keep them like a glasses doll. a freedom is the way we say we love her. Ini sebuah siklus, ini terjadi pada nenek moyang kita, pada buyut, nenek, ibu, dan kita sendiri. So, accept that, mother. Akhirnya, aku percaya suatu saat nanti dia pun akan menemukan sendiri caranya mencintai ibunya. Like I do to my mother. I love you mom!
Being a kinder person
Dont you want to know why people can change? I think because they "see" something. I mean really see with their heart. One of my friends ever told me about people who only have word experience not world experience. What thats mean? I ask her. Actually, someone who have word experience only boast of about something but do not do that in reality. I hope I amnot one of them. You know, it is easier to say something than to do that so I understand why lots people is in this category. The other category is person who has both word and world experience. But human are so flexible you know, they forgetting in one time and remembering in another time. They recover and they are getting sick, ect. So, balancing life, thats the answer to manage your change. People will always change, in micro tiny things may be.
(Uah capek ngomong bahasa inggris)